Selasa, 11 Januari 2011

Ketika Saya Menunggu


Hari ini kembali merasakan bagaimana rasanya menunggu itu. Akan tetapi ternyata menunggu itu membuahkan inspirasi untuk kembali menuliskan apa yang saya pikirkan tentang menunggu. Pada awalnya memang merasa jenuh dengan aktivitas menunggu, karena merasa mengharapkan kehadiran sesuatu namun tak kunjung datang. Entah beberapa kalinya menunggu itu saya rasakan akan tetapi ternyata ada banyak hal yang kembali saya renungkan dalam proses penantian saya.

Tak selamanya menunggu itu aktivitas yang sia-sia. Terkadang satu hal yang membuat kita jenuh dalam bersabar dalam sebuah penantian karena merasa menunggu itu adalah sebuah kesia-sian atau sebuah ketidakpastian. Tetapi itu semua salah, karena Allah tidak hanya melihat hasil tetapi juga sebuah proses. Bukankah seseorang yang menunggu waktu sholat itu terhitung melakukan sholat itu sendiri. Sama halnya dengan penantian kita terhadap niat kebaikan dalam sebuah mesjid dalam menanti mereka insya Allah tetap Allah hitung sebagai waktu-waktu seperti yang kita niatkan entah itu membagi sedikit ilmu yang Allah titipkan atau juga menanti untuk menuntut ilmuNya.

Menunggu boleh jadi sebuah ujian sejauh mana keikhlasan kita untukNya. Entah.. itulah yang ku rasakan selama menunggu. Merasa Allah sedang melihat sejauh mana kita menyikapi akan sebuah proses yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita tetapi sesuai kehendakNya hanya untuk melihat sejauh mana kita berhasil melaluinya.

Sebuah keikhlasan yang menjadi rahasia terbesar seorang hamba dengan sang penciptaNya akan setiap amal kebaikaNya. Keikhlasan yang tiada hanya diuji di awal tetapi sepanjang hidup hambaNya dengan berbagai bentuk dan waktunya.

Menunggu sarana pelatihan husnudzan kepada mereka. Ukhuwah tiada pernah dapat dimulai dan dipertahanan manakala dalam hati kita terdapat prasangka buruk terhadap mereka. Tetapi tingkatan ukhuwah yang paling dasar adalah berlapang dada tanpa disertai sejuta prasangka buruk terhadap mereka. Oleh karenanya di dalam menunggu membuat kita terlatih mencari sejuta prasangka baik terhadap mereka, karena tiada setitikpun kecintaan terhadap mereka ketika dalam hati ada titik-titik prasangka buruk untuk mereka. Padahal tak akan merugi orang-orang yang saling mencintai karenaNya karena akan memperoleh cintaNya dan orang yang paling dicintaiNya di antara mereka yang saling mencintai karenaNya adalah yang paling besar & baik kecintaanNya terhadap saudara-saudaranya.

Menunggu itu menuai sejuta manfaat akan waktu yang ada. Hari ini ternyata ketika mau utuk bersyukur ternyata dalam menunggu selama 3 jam itu, dapat menuntaskan 205 halaman sebuah buku. Juga pada saat sebelumnya yang ternyata dalam menunggu dapat melakukan sholat tasbih untukNya. Setelah dilihat ternyata ada sejuta manfaat ketika mengelola waktu tunggu kita, selagi Allah tetap mencatat pahala menunggu sesuai dengan niat awal plus kebaikan lain yang sedang kita lakukan selama menunggu. Wah.. harus tambah bersyukur karena Allah kembali melipat gandakan keberkahan satu waktu kita tat kala kita menunggu sesuatu.

Menunggu ternyata menciptakan do’a dan harapan untukNya.Bayangkanlah menunggu di dunia bukanlah aktivitas yang terlalu menakutkan seperti kelak kita menunggu antrian penyerahan kitab amal perbuatan kita beserta bentuk-bentuk hisab dariNya akan setiap waktu, ilmu, amal, serta harta kita. Sebuah penantian yang membuat butir-butir keringat mengucur dengan derasnya karena rasa takut dan khawatir terhadap perilaku kita semasa di dunia. Oleh karenanya semoga waktu dan kesabaran penantian kita di dunia ini menuai kelapangan dalam menanti keputusanNya kelak terlebih mudah-mudahan Allah mempercepat waktu hisab kita karena amal menunggu kita di dunia ini.

Menunggu sarana pembuktian ketulusan kita untuk mereka. Ternyata perasaan tidak enak bukan hanya hadir bagi yang menunggu akan tetapi bagi mereka yang membuat kita menunggu juga merasakan hal yang sama. Mereka merasa tidak nyaman karena kekhilafan mereka sehingga membuat kita harus menunggu kehadiran mereka. Penerimaan terbaik kita terhadap mereka orang yang kita cintai bukanlah karena segala keistimewaan yang melekat pada mereka, akan tetapi penerimaan terbaik kita sebagai pembuktian ketulusan kita terhadap mereka ternyata karena kita bersedia menerima kekurangan mereka atas kita. Oleh karenanya ternyata bersabar dan memaafkan mereka ternyata membuat mereka semakin memiliki rasa sayang terhadap kita.

Semoga ketika Allah kembali menguji kita dengan menunggu atau sebuah penantian, kita dapat mensyukurinya sebagai nikmat dariNya.

Faidzaa a'azamta fatawakkal 'alallah

Robb......istiqomahkan saya.................T_T

Tangerang, 8 januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar