Minggu, 19 Desember 2010

Cermin Diri

Tatkala kudatangi sebuah cermin

Tampak sesosok wajah

Yang telah kukenal dan sangat sering kulihat

Namun aneh, sesungguhnya,

Aku belum mengenal siapa yang kulihat

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya

Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya,

Bersinar di Surga sana

Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di Neraka jahanam

Tatkala kutatap mata, nanar hatiku bertanya

Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan,

Menatap Allah, menatap rasulullah,

Menatap kekasih-kekasih Allah kelak

Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot,

Menganga raih menatap neraka jahanam

Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan

Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini

Tatkala kutatap mulut, apakah

Mulut ini Yang kelak akan mendesah penuh kerinduan,

Mengucap Laa iLaha Illalah

Saat sakaratul maut menjemput

Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur,

Dengan lengking jeritan pilu

Yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar, Ataukah

Mulut ini akan menjadi pemakan buah zaqum jahanam,

Yang getir penghangus, penghancur setiap usus

Apakah gerangan yang engkau ucapkan, wahai mulut yang malang

Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan, Berapa banyak

Hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam, Berapa banyak,

Berapa banyak kata-kata manis semanis madu,

Yang palsu, yang engkau ucapkan untuk menipu

Betapa jarang engkau jujur,

Betapa langkanya engkau syahdu memohon agar tuhan mengampunimu

Tatkala kutatap tubuhku, apakah

Tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya,

Bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga, atau

Tubuh yang akan tercabik-cabik, hancur,

Mendidih di dalam lahar, membara,

Terpasung tanpa ampun, derita yang tak pernah berakhir

Wahai tubuh,

Berapa maksiat yang engkau lakukan, berapa banyak

Orang-orang yang kau dzalimi dengan tubuhmu

Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah,

Yang kau tindas dengan kekuatanmu

Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa perduli,

Padahal engkau mampu, Berapa banyak

Hak-hak yang kau rampas, wahai tubuh

Seperti apa gerangan isi hatimu

Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu, atau

Sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu, Apakah

Hatimu segagah ototmu, atau

Selemah daun-daun yang mudah rontok

Apakah hatimu seindah penampilanmu, atau

Sebusuk kotoran-kotoranmu, Betapa beda,

Betapa beda apa yang tampak di cermin

Dengan apa yang tersembunyi

Aku,

Aku telah tertipu, aku tertipu oleh topeng

Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng,

Hanyalah topeng belaka

Betapa yang ujian terhambur hanyalah memuji topeng

Betapa yang indah hanyalah topeng

Sedangkan aku,

Hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus

Aku tertipu, aku malu ya Allah,

aku Malu, Allah

Selamatkan aku ya Allah,

Allah, selamatkan aku, selamatkan aku

Amin ya rabbal ‘alamin

puisi Aa Gym. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar